Dari tahun 1976 hingga 1985, Prabowo Subianto mengukir karir militernya yang gemilang dalam lingkungan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), sebuah unit pasukan khusus Angkatan Darat yang sangat dihormati pada masa itu.
Salah satu pencapaian awalnya adalah saat dia menjadi komandan pleton di Grup I/Para Komando yang terlibat dalam pasukan operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Menariknya, saat itu Prabowo masih berusia 26 tahun, tetapi sudah memimpin dengan penuh dedikasi dalam salah satu operasi militer yang sangat penting. Perannya sangat vital dalam menjalankan misi penangkapan terhadap Nicolau dos Reis Lobato, pemimpin Fretilin yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri saat itu selama Operasi Seroja. Dengan bantuan adiknya, Antonio Lobato, kompi yang dipimpin oleh Prabowo berhasil menemukan Lobato di Maubisse, sebuah kota kecil yang berjarak lima puluh kilometer di selatan Dili. Sayangnya, Lobato tewas tertembak di perut saat terlibat dalam pertempuran di Lembah Mindelo pada 31 Desember 1978. Kejadian ini menjadi salah satu momen penting yang menandai berakhirnya perlawanan terbuka Fretilin terhadap invasi militer Indonesia dan dimulainya pendudukan militer di wilayah bekas jajahan Portugal tersebut.
Pada tahun 1983, Prabowo telah meraih jabatan sebagai wakil komandan di Detasemen Khusus 81 (Penanggulangan Teror) dalam lingkup Kopassandha. Dengan prestasinya yang gemilang dan dedikasinya yang kuat, Prabowo Subianto menjalani karir militer yang sangat mengesankan selama bertahun-tahun di pasukan khusus Angkatan Darat.

No comments:
Post a Comment